Pembantuku, Tini

Pengalamanku saat aku baru nikah 1 th, saat itu aku sudah berumah tangga sendiri, karena istriku juga

bekerja maka kita mengambil seorang pembantu melalui biro jasa. Pembantuku masih muda sekali usianya kira

18 th hanya kulitnya agak putih dan bersih. Dia sampai saat terjadinya kejadian ini sudah bekerja kira-kira

6 bulan. Saat itu aku ada keperluan mengambil surat-surat yang tertinggal dirumah, pembantuku Sutini

namanya tapi panggilannya Tini yang membukakan pintu. Karena aku mencari surat yang tertinggal agak lama

maka pintu ditutup lagi oleh Tini dan Tini kelihatannya langsung mandi. Akhirnya aku ketemukan suratku itu,

tapi karena Tini masih mandi maka aku tunggu sebentar untuk menutup pintu depan. Aku duduk dipinggir tempat

tidur, memang jendela kamarku menghadap kebelakang sehingga bisa melihat kebun juga kamar serta kamar mandi

pembantu yang letaknya dibelakang kebun, menghadap jendela kamarku. Pintu kamar mandinya kemudian terbuka

dan Tini keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk dililitkan ketubuhnya. Mungkin dianggap rumah sepi tak

ada yang tahu jadi dia berani begitu pikirku. Diam-diam aku perhatikan terus, Tini memasukkan pakaian

kotornya keember cucian dan kemudian balik masuk kekamarnya.

Tanpa ditutup juga kamarnya Tini kelihatan mengambil pakaian dari lemarinya. Lalu Tini melepas handuknya

dan mengeringkan lagi tubuhnya, waaah terlihat sekali badannya yang langsing dan putih bersih dengan buah

dadanya yang kecil dengan puting warna merah jambu serta kemaluannya yang masih belum ditumbuhi rambut

sedikitpun. Kemudian Tini memakaiBH mininya yang tanpa spons dan CD yang juga mini lalu memakai rok bawahan

dan kaos. Melihat tubuh yg kecil, bersih dan indah itu nafsuku membara. Setelah Tini selesai menyisir

rambutnya dan membedaki mukanya, aku langsung panggil dia. "Tin"

"Iya pak". "Tolong pijit sebentar leher dan kepalaku, aku pusing nih!" sambil berkata aku duduk dikursi

makan. Kemudian Tini memijit leherku, walaupun kecil tubuhnya tapi pijitannya cukup mantap. Habis mijit

leher aku minta mijit bagian dahi dan pelipis kiri dan kanan.

Tini mulai memijitnya, tapi karena kepalaku goyang-goyang. tiba-tiba ditariknya kebelakang dan disandarkan

kedadanya. Aku jadi makin greng walaupun buah dadanya kecil sehingga aku hanya merasakan sandarannya agak

empuk. Ulahnya Tini membuat kontolku mulai bangun sedikit2, aku jadi penasaran lalu aku coba tanganku

kuturunkan dan me-nyentuh kakinya. Ternyata Tini diam saja tak bereaksi negatif. Lalu kuberanikan utk

meraba pahanya, ternyata Tini tetap diam saja dgn memijit dahiku terus.

Rabaanku kuteruskan dengan 2 tangan dipaha kiri dan kanan sambil ku-pijit pahanya dan tangan kananku terus

merambat keatas sampai kekemaluan Tini yg tertutup celana dalam. Saat itu Tini masih diam terus, lalu

jariku coba kususupkan kedlm CD nya utk mengutik-utik lubang kemaluannya, saat itu Tini mulai mendesis dan

menggoyangkan pantatnya,

"Sssseeeettt.....aduh pak geli kena itilku". Tetapi karena Tini tidak lari dan tetap memijtku terus maka

pekerjaan tangan itu tak berhenti dan terus berjalan sampai akhirnya tangannTini lepas tak memijit lagi dan

memegang lenganku erat-erat dan berbisik :

"Pak..pak...Tini nggak tahan minta yaak pak?".
"Minta apa Tin?"tanyaku. Tini tak menjawab hanya memberi kode dengan tangannya yang digenggam dengan

jempolnya dijepit antara jari tengah dan telunjuk , yg berarti minta disetubuhi.

"Katanya kamu masih gadis"kataku. Tini lalu cerita, dia sudah dijodohkan didesa kira-kira setahun yang

lalu, pada saat pulang Lebaran kemarin, dia sudah digauli oleh pacarnya itu sampai beberapa kali.

"Karena sudah merasakan digauli itu, Tini jadi sering kepingin begitu lagi sekarang " katanya. Dia cerita

lagi:
"Apalagi Tini sering lihat bapak dan ibu kalau main, jadi nafsu Tini sering bergelora".

"Darimana kamu lihat" tanyaku.
"Ngintip dari celah kordin kamar bapak" katanya polos.
"Apa tiap malam kami ngintip" tanyaku.

"Tidak pak, cuma Tini tahu kebiasaan ibu sebab tiap kali ibu memakai pakaian tidur yang tipis yang

kelihatan BH dan CD nya itu baru Tini ngintip sebab selalu main". Lanjutnya:
"Tini nafsu sekali kalau lihat ibu dengan telanjang lalu mengisap kontolnya bapak dan saat bapak meniduri

ibu sampai ibu keluar lendirnya. Tini juga lihat ibu yang dengan lahapnya meminum air maninya bapak yang

disemprotkan dalam mulutnya ibu".

"Kalau gitu kamu lihat semua cara-cara bapak dan ibu kalau main? tanyaku. "Iya pak, kalau didesa pacar Tini

kalau main ya cuma biasa seperti orang desa itu. Tidak seperti ibu kadang duduk diatas, kadang bolak balik

ibu mengisap kontolnya bapak dan bapak mengisap kemaluannya ibu".

"Tini kamu datang bulannya kapan? " tanyaku.
"Sudah lama pak, ini mungkin seminggu lagi dapat haid.” sahutnya.

Karena Tini kepingin dan sudah bukan perawan, lagi pula tak masa subur langsung aku berdiri dan kulepasi

pakaianku dan Tini kusuruh mengambil kasur lipat digudang dan dipasang disebelah meja makan. Aku langsung

tiduran dan Tini aku minta mengisap kontolku.Walaupun Tini sudah lihat tehnik-tehnik bermain cinta, tetapi

karena belum dipraktekkan jadi rasanya belum enak seperti istriku. Tini aku suruh melepas semua pakaiannya

sampai bugil. Lalu buah dadanya kucoba kuremas tapi karena masih kecil jadi sulit, aku hanya bisa

memencet-mencet putingnya lalu kuisap-isap juga sampai meng-usap2 kemaluannya yang gundul. Tini memegang

kontolku dan menciuminya sambil bekata:

"Kalau kontol orang desa itu kecil-kecil pak tidak ada yang gede seperti punya bapak ini. Kalau gede kan

bisa marem rasanya".

Saat kupegang dan kumasukkan jariku kelubang kemaluannya selain memang masih sempit lubangnya juga

lendirnya suddh banyak sekali tetapi encer tak sekental punya istriku. Ada lendir cewek yang banyak ini,

aku makin bernafsu, Aku minta Tini main 69 atau bolak balik menurut istilahnya dia. Tini yang diatas sambil

ngisap kontolku dan aku dibawah mempermainkan kemaluannya dengan mulut dan lidahku. Itilnya kujilati sambil

lubangnya kemaluan kumasuki 2 jari dan kugelitik bagian dalamnya.

" Aduuuuuuh ... pak.Kemaluanku geli sekali rasanya... aduuuuh Tini mau keluar lendirnya pak".

Mendengar itu langsung lubang kemaluannya kucucup dan terus kusedot-sedot dengan kuat sampai terasa suur..

suuuur.... suuur dengan disertai rintihan Tini:

"Pak...pak...air santannya Tini sudah keluar semua".

Kemudian kulihat ternyata masih cukup banyak air santannya dilubangnya dan setelah kusedot lagi kubersihkan

santan-santan yang lepas menempel dibibir kemaluannya dan terasa penuh mulutku dengan maninya. Saat kutelan

rasanya sama seperti punya istriku yaitu asem-asem asin, hanya punya Tini lebih banyak tapi encer. Mungkin

makin berumur lendirnya makin kental. Karena aku belum keluar maka segera kutancapkan kontolku ke

lubangnya.

Begitu kumasukkan total seluruh batang kontolku, Tini merintih:

"Seeeeessst....aduh enaknya, pak kontolnya bapak rasanya enak sekali beda jauh dengan punya pacar saya".

Rintihan itu makin membuat aku garang dan hunjamkan terus kontolku dengan agak keras dan cepat kontolku

kelubang kemaluannya sampai Tini betul-betul tak tahan nikmatnya dengan menggelinjang-gelinjang terus.

"Pikirku pembantu ysng kurang ajar berani ngintip ini mesti diajar betul. Kira-kira 10 menit kemudian baru

aku mencapai klimaks dan kemaluannya kusemprot dengan maniku dan Tini berbisik:

"Aduuuh hangatnya kontolnya bapak dan air maninya". Selesai main Tini kuminta mencuci kontolku dikamar

mandinya. Sambil mencuci Tini bilang:

"Waaaah, bapak mainnya hebat sih, pantasan ibu sering minta terus. Tini juga nanti minta lagi ya" Aku

menyanggupi permintaanya, asal jangan saat masa subur. Aku menyanggupi karena aku pikir tubuhnya bersih dan

tak ada penyakitnya serta baru karena baru seorang yang pakai, yaitu pacarnya walaupun buah dadanya kecil,

tapi puting kalau diisap Tini toch terangsang banget. Jadi kalau nanti kepingin ditiduri, Tini pura-pura

batuk-batuk kecil saat mengepel lantai ruang tamu dimana saya selalu duduk membaca koran. Lalu dia memberi

koda manggut-manggut. Kejadian ini berulang terus kira-kira tiap dua minggu sekali selama kurang lebih 4

bulan, sampai akhirnya dia pamit keluar karena disuruh nikah.

Tamat

0 comments:

Post a Comment